Rabu, 12 Januari 2011

HAMBATAN TEKNIS DALAM PERDAGANGAN

Regulasi dan hambatan teknis yang diberlakukan pada impor suatu negara adalah untuk meyakinkan bahwa impor yang dilakukan tidak menyebarkan hama, penyakit dan masalah lain ke negara tersebut, serta untuk memastikan bahwa produk yang diimpor memiliki kesamaan standar dengan produk domestik. Standar teknis ini mencakup peraturan atas kualitas, packaging, labeling, standar identitas dan konfirmasi penilaian. Beberapa dari peraturan ini membantu meningkatkan arcs informasi dalam proses pemasaran dan mempermudah konsumen mendapatkan informasi tentang produk yang asli, aman dan berkualitas. Peraturan atau hambatan teknis lainnya meliputi sanitasi dan fitosanitasi pada tanaman dan binatang untuk meyakinkan bahwa produk yang diperdagangkan tidak terinfeksi hama atau penyakit yang mematikan atau berbahaya.
Regulasi teknis yang bare dalam perdagangan internasional mengalami perbaikan karena meningkatnya permintaan tentang keamanan makanan dan lingkungan yang bebas dari hama dan penyakit. Konsumen meng¬inginkan adanya jaminan bahwa makanan yang diimpor telah lolos standar kesehatan dan keamanan yang berlaku untuk makanan domestik. Merupakan hal yang wajar bila standar makanan domestik meningkat sebagai akibat dari tingginya tingkat kewaspadaan konsumen dan meningkatnya teknologi deteksi. Demikian pula halnya dengan standar makanan impor.
Bab ini membahas hal-hal umum yang berhubungan dengan hambatan teknis (pertimbangan, dampak dan problemnya) dan secara khusus melihat bagaimana hambatan tersebut diselesaikan dalam Putaran Uruguay di negosiasi GATT. Hal spesifik yang masih diperdebatkan adalah melihat hambatan teknis dari segi pengertiannya yang lebih mendalam karena hambatan ini juga wring dilakukan melalui berbagai masalah (termasuk masalah politik) bersamaan dengan adanya liberalisasi perdagangan. Bab ini akan membahas cara-cara mengukur hambatan perdagangan secara kuantitatif
ISU ISU UMUM
Telah menjadi perhatian yang cukup lama bahwa produk impor dapat mengirimkan spesies hama dan penyakit yang berbahaya yang dapat menimbulkan masalah bagi industri pertanian domestik di mass yang akan datang. Beberapa contoh spesies berbahaya yang dibawa ke Amerika Serikat di antaranya adalah kumbang peng¬hisap, ngengat dan semut api. Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 50 hingga 75 persen rumput liar dan 40 persen hama terkirim melalui perdagangan. Oleh karena itu negara berhak untuk melindungi industri domestiknya melalui hambatan teknis dan hal ini diperbolehkan oleh GATT melalui regulasi sesi ke-20 tentang kesehatan dan keamanan.
Namun ada keprihatinan bahwa sebagian besar dari hambatan teknis ini mempunyai arti sebagai proteksi tersembunyi, yang timbul karena terbatasnya peluang bagi hambatan non-tarif dan tarif legal GATT yang lain. Beberapa peneliti memperdebatkan bahwa pemerintahan yang ada sangat tergantung pada hambatan teknis untuk mencegah impor dan industri domestik akan memperoleh lebih banyak profit (Orden dan Roberts, 1998). Tidak diragukan lagi bahwa standar suatu produk akan mempengaruhi daya saing (cost of competitiveness) karena produk impor b1sa menjadi lebih murah sehingga penting apabila standar ini dilegalkan agar produk impor tidak selalu menguntungkan. Ada dugaan bahwa hambatan teknis merupakan hambatan ekonomi tersamar. Oleh karena itu diperlukan lebih banyak pendekatan ilmu pengetahuan untuk melegalkan dan menetapkan standar teknis tersebut.
Berbicara mengenai standar teknis, bagaimanapun juga, berhubungan dan berhadapan dengan risiko yang bakal terjadi apabila standar tersebut tidak ditetapkan. Kenyataannya sering bahwa sangat tidak mungkin untuk menghilangkan kemungkinan yang tidak diinginkan akan terjadi. Namun ada beberapa cara untuk mengukur risiko secara kuantitatif sehubungan dengan kejadian tertentu dan mengembangkan sistem untuk memastikan bahwa risiko dari kejadian yang tidak diinginkan adalah lebih kecil dari tingkat risiko yang dapat diterima. Ilmu pengetahuan dapat memberikan penilaian risiko secara kuantitatif akan tetapi tidak dapat menjawah tentang tingkat keamanan yang dapat diterima. Tingkat risiko yang dapat diterima merupakan isu normatif yang sering terjadi dalam masyarakat atau pemerintahan. Rendahnya toleransi terhadap risiko akan menimbulkan permintaan atas hambatan teknis yang lebih ketat lagi sementara toleransi yang lebih tinggi akan menyebabkan berkurangnya hambatan teknis.
GATT mengantisipasi berbagai masalah dengan menetapkan dan memberlakukan hambatan teknis dalam perdagangan di tahun 1960-an. Selama Putaran Tokyo, berdasarkan negosiasi GATT (1974-1979), ditetapkan perjanjian Hambatan Teknis Perdagangan (Technical Barriers to Trade = TBT) yang bertujuan untuk melindungi para konsumen terhadap kecurangan dan penipuan standar produk. Perjanjian TBT menetapkan bahwa semua hambatan teknis dan ketentuannya harus memiliki tujuan yang logis (untuk menyediakan infon-nasi tentang suatu produk atau melindungi dari hama atau penyakit yang berbahaya). Biaya penerapan dari standar ini haruslah proporsional dengan tujuan dari adanya standar tersebut. Artinya, biaya penerapan standar tidak sama besamya dengan nilai waktu, standar tentang perlindungan atas kesehatan dan keamanan. Akhimya persetujuan GATT menyatakan bahwa jika ada banyak cara untuk mencapai suatu tujuan maka metode restriksi perdagangan ter¬keeillah yang dipilih. Itulah seluruh ids dan gagasan GATT yang paling dikenal yang didasarkan pada prinsip perdagangan liberal.
Perjanjian TBT dari Putaran Tokyo merupakan langkah awal yang penting, akan tetapi terdapat konsensus umum bahwa persetujuan tersebut gagal untuk membendung perkembangan regulasi teknis (Roberts, 1998). Tekanan untuk memproteksi industri pertanian domestik, keamanan kesehatan dan pangan dan teknologi pendeteksi yang akurat yang telah membentuk lebih banyak lagi hambatan perdagangan dan perdebatan tentang hambatan tersebut. Tidaklah culcup kekuatan legal di balik perdebatan GATT mengenai penyelesaian prosedur sebelum Putaran Uruguay, dan tidak ada mekanisme yang diatur untuk mencapai persetujuan tentang standar dan regulasi yang sah.
PUTARAN URUGUAI
Perjanjian Putaran Uruguay tentang Aplikasi Ukuran Sanitary dan Fitosanitary (persetujuan SPS) men¬definisikan prinsip dasar GATT di balik penggunaan hambatan SPS dalam perdagangan. Prinsip pertama adalah suatu negara memiliki hak dasar untuk memberlakukan ukuran SPS yang melindungi tanaman, binatang dan kesehatan manusia berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan. Ukuran ini tidak dapat membedakan apakah antar-anggota mempunyai kondisi ukuran sama atau mirip. Jika Uni Eropa dan Amerika Serikat memiliki dua per¬bedaan yang valid secara ilmiah tentang alai yang menjamin keaslian produk susu maka Amerika Serikat tidak dapat memaksa Uni Eropa untuk mengikuti seluruh prosedurnya. Amerika Serikat harus memperbolehkan impor susu dari Uni Eropa yang telah menerapkan metode ilmiah yang valid menurut cara Uni Eropa.
Prinsip kedua adalah bahwa para anggota akan mendasarkan persyaratan SPS-nya pada standar inter¬nasional, panduan, atau rekomendasi meskipun mereka dapat saja memberlakukan standar yang lebih tinggi jika terdapat pertimbangan secara ilmiah. Hal ini menyiratkan adanya kebutuhan untuk melakukan harmonisasi ukuran SPS antarnegara sehingga perdagangan internasional berlangsung dengan mudah dan proses produksi dapat digulirkan ke dalam satu paket regulasi. New Zealand adalah negara pengekspor utama berbagai produk pertanian. Industri daging sapinya harus menyesuaikan din dengan standar Uni Eropa dan Amerika Serikat: industri apelnya harus menyesuaikan din' dengan standar suatu negara karena mengandung 146 organisms yang dapat mempengaruhi tanaman buah-buahan asli (Johnson). Standar umum SPS dan TBT dunia akan sangat mem¬bantu para eksportir.
Prinsip ketiga adalah para anggota diwajibkan untuk mengenali ukuran yang diadopsi oleh negara lain yang memberikan tingkat proteksi yang sama. Ini merupakan konsep ekuivalensi (kesamaan) dan pengertian bahwa suatu negara harus melihat produk akhlr daripada, proses yang digunakan untuk menemukan standar yang akan diberlakukan. Jepang tidak dapat menolak metode fumigasi yang digunakan oleh Amerika Serikat karena hal tersebut tidak diberlakukan di Jepang. Jika suatu metode dianggap aman dan efektif secara ilmiah maka. Jepang harus mengakuinya sebagai metode yang ekuivalen.
Prinsip keempat adalah bahwa para anggota harus mendasarkan ukuran SPS pada penilaian risiko dan mempertimbangkan metodologi yang dikembangkan dengan bantuan tiga organisasi internasional: Komisi Alimenetarius Codex (Codex Alimenetarius Commission = Codex), Kantor Internasional Epizootics (Inte"iational ice of Epizootics = IOE) dan Sekretan'at Konvensi Perlindungan Tanaman Internasional (Secretariat of the Inte"iational Plant Protection Convention = IPPC). Organisasi ini membantu pengembangan metodologi penilaian risiko secara umum dan harmonisasi standar.
Prinsip yang terakhir adalah bahwa para anggota harus memahami bahwa risiko SPS tidak perlu tepat sama dengan batas secara politik. Bebas llama dan bebas penyakit dalam suatu negara harus diakui bila terdapat bukti nyata sebagai jaminan. Oleh karena itu laporan tentang impor harus didasarkan pada perbedaan regional dalam berbagai hal daripada didasarkan atas perbedaan negara. Prinsip ini menjadi penting pada saat penetapan zona bebas hama dan bebas penyakit di negara-negara yang kegiatan ekspornya dilegalkan.
Prinsip-prinsip tersebut bersama dengan prosedur peningkatan penyelesaian yang sedang diperdebatkan saat ini akan membantu GATT dan tim suksesnya, WTO, untuk memastikan bahwa SPS dan hambatan teknis lainnya benar-benar berada pada tempatnya untuk menjaga keamanan dan kesehatan. Aspek lain yang juga penting dari perjanjian SPS adalah mensyaratkan negara-negara untuk selalu memberikan informasi terbaru dalam hal perubahan standar. Ada sekitar 400 informasi dalam delapan bulan pertama semenjak WTO berdiri (Stanton).
Metodologi penilaian risiko dalam perhitungan SPS yang diusulkan oleh GATT mencakup, tiga tahapan: mengevaluasi kemungkinan masuknya penyakit atau hama ke suatu negara atau menentukan efek yang kurang baik secara potensial terhadap kesehatan akan zat aditif dan kontaminasi (bagian yang ilmiah dari suatu proses); menentukan tingkatan yang dapat diteri'ma, dari suatu risiko yang dapat ditoleransi (hal ini merupakan pilihan yang harus diambil oleh si pembuat keputusan karena, selalu ada, peluang dalam suatu, kejadian); dan menyeleksi serta menerapkan penilaian yang akan mengurangi risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima, (membuat prosedur perdagangan yang senetral mungkin).
Jika ada dua partisipan yang tidak setuju pada hambatan teknis tertentu maka WTO akan membahas prosedur yang akan ditetapkan, yang dimulai dengan konsultasi awal antarpartisipan. Jika pembicaraan awal tidak menyelesaikan perselisihan maka partisipan akan meminta WTO membentuk suatu panel diskusi. Panelis akan menjadi pendengar masalah tersebut dan membuat peraturan atas hasil diskusi panel. Partisipan yang kalah harus menerapkan apa yang telah direkomendasikan oleh panelis dan melaporkan bagaimana hal tersebut diikuti/ dipenuhi. Hal ini merupakan proses yang paling standar dan keputusan panel memiliki status lebih tinggi daripada aturan GATT. Organisasi internasional menyediakan keahlian teknis dalam proses penyelesaian perselisihan tersebut.
Tiga lembaga internasional, yaitu Codex, IOE dan IPPC, adalah lembaga-lembaga yang telah ter¬organisasi dengan baik dan memiliki banyak pengalaman di bidang kesehatan dan keamanan. Codex didirikan pada tahun 1963, bertanggung jawab atas zat aditif pada makanan, reside pestisida, kontaminasi, obat hewan, pengepakan dan standar makanan. Organisasi ini merupakan cabang dari Organisasi Pertanian dan Pangan dan Organisasi Kesehatan Dunia. Negara anggotanya beljumlah 153 yang mencakup 98 persen populasi dunia, merupakan wakil dan' agen regulator pemerintah, organisasi sain, dan perusahaan makanan (Dawson). Organisasi ini bekeda dengan negara, anggota untuk menetapkan standar makanan sebagai facilitator perdagangan dunia.
Kantor Internasional Epizootik (10E) adalah organisasi para dokter hewan internasional yang berdiri tahun 1924 yang bertanggung jawab di bidang kesehatan hewan. Organisasi ini mempunyai 130 negara, anggota dan harus menjaga jaringan informasi mengenai penyakit hewan. IOE sangat berperan dalam penetapan kebijakan karantina perdagangan ternak dan penentuan prosedur untuk memutuskan apakah suatu wilayah bebas dari penyakit (di mana yang menjadi isu kali ini adalah penyakit kuku dan mulut).
Konvensi Perlindungan Tanaman Internasional (IPPC), yang didirikan tahun 1951 bertanggung jail ail dalam bidang kesehatan tanaman dan penyakit tanaman. Lembaga ini merupakan cabang lain dari Or. Pertanian dan Pangan dan memiliki cabang di Sembilan puluh negara.
Seluruh organisasi internasional tersebut sangat aktif dalam mengembangkan pendekatan untuk mengontrol risiko dan bekeiJa sama dengan pemerintah untuk merekomendasikan program kontrol kualitas Codex telah aktif bekell'a dalam menganalisis risiko titik kontrol kritis (Hazard Analysis Critical Control Point = HACCP) dan merupakan organisasi terbaik dalam sistem penerapan manajemen (Best Management Practises = BMPs). Keikutsertaan organisasi-organisasi internasional tersebut memastikan bahwa tidak ada negara nianapur, yang mendominasi forum diskusi mengenai hambatan teknis dan ilmu pengetahuan mempunyai peran kung. dalam pengambilan keputusan.
Organisasi industri pangan internasional yang penting lainnya adalah Organisasi Standar Internasiona: yang berlokasi di Geneva, Switzerland. Program ISO 9000-nya merupakan sistem penjaminan kualitas yang menyatakan bahwa penerapan terbaik (the best practices) akan dilkuti oleh perusahaan lainnya. Standw internasional ini membantu importir untuk mengetahui bahwa suatu produk telah mencapai kriteria proses yang sesuai dengan industri tertentu.
Akan sangat menyenangkan bila dunia dapat menyetujui suatu standar umum, menerbitkan dar mematuhinya, Berta memperbolehkan suatu perusahaan berdagang dengan bebas berdasarkan perjanjian stands:- yang berlaku. Meskipun demikian hal ini tidak secara persis menunjukkan kinerja dunia di antara negara saat ini, tetapi ada perkembangan menuju ke arah itu. Biaya penetapan standar selalu mengalami kenaikan secara besar-besaran setiap tah-unnya dan ilmu pengetahuan semakin mampu memberikan penilaian kualitas suatu produk dengan tepat. Bagaimanapun juga selera dan situasi sangat beragam di tiap negara dan mungkin tedad: pemaksaan karena telah ada undang-undang nasional sebelumnya. Seiring dengan kenaikan standar produk di mass yang akan datang (sebagai hasil dari pendapatan yang semakin tinggi dan meningkatnya preferensi akan keamanan pangan), negara dengan keamanan pangan dan hewan yang dapat dipertanggungjawabkan dan sistem kesehatan tanamannya akan meningkat daya. saingnya.
PERDEBATAN MENGENAI UKURAN SPS
Bagian ini membahas tiga kasus SPS yang menekankan tentang penyelesaian perdebatan di antara dan antarnegara. Aspek politik sangat berperan dalam hal ini dibanding aspek ilmu pengetahuan. Namun belum ada indikasi yang jelas bahwa mekam sme WTO melegalkan pemberlakuan ilmu pengetahuan, bahkan untuk negara yang besar dan paling berkuasa sekalipun.
Alpokat Meksiko
Komoditas alpokat Meksiko dilarang masuk ke Amerika Serikat sejak tahun 1914 karena adanya kekhawatiran para. produsen Amenika, Serikat bahwa kegiatan impor itu akan mengarah ke investasi kumbang penggerek dari benih alpokat (ngengat dan lalat buah)2. Industri alpokat Meksiko terkonsentrasi di bagian barat days negara tersebut dan daerah pegunungan di bagian utara Meksiko telah menghalangi pergerakan kumbang penggerek dari utara. Para ilmuwan Meksiko menegaskan bahwa ada. praktik budaya dan kimia modern yang dapat digunakan untuk memberantas hams tersebut.
Meksiko adalah pengekspor komoditas alpokat terbesar di dunia dan mereka ingin masuk ke pasar Amerika Serikat. Studi yang dilakukan oleh Kantor Petemakan Amerika memperkirakan bahwa Maya produksi Meksiko adalah sebesar $600 hingga $900 per acre bila dibandingkan dengan $5,200 hingga $5,700 per acre di California. Roberts dan Orden, ketika membandingkan harga alpokat antara Meksiko dengan Amerika Serikat, menemukan bahwa harga di Amerika Serikat kira-kira dua kali lipat harga di Meksiko. Tidak diragukan lagi bahwa Meksiko merupakan produsen alpokat berbiaya rendah dan produk ini akan mengalir ke Amerika Serikat jika tidak ada hambatan teknis dan perdagangan.
Negosiasi NAFTA menyatakan bahwa ada pemeriksaan bare yang dilakukan oleh Lembaga Pemeriksaan Kesehatan Tanaman dan Hewan (Animal Plant Health Inspection Service = APHIS) dan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang merupakan organisasi yang ditugaskan untuk mengkarantina hal-hal yang berkenaan dengan perdagangan internasional, termasuk terhadap impor alpokat dari Meksiko. APHIS menilai risiko dan merekomendasikan aturan ijin masuk atas produk impor dengan risiko yang paling minimum bagi pertanian Amerika Serikat. Tinjauan ulang ini dimulai pada tahun 1990 dan menghasilkan usulan aturan oleh APHIS untuk mengijinkan impor alpokat dari negara bagian Meksiko, yaitu Michoacan yang berada di sebelah utara Meksiko ke timur laut Amerika Serikat selama bulan November hingga Februari. Bulan-bulan ini dipilih karena kondisi ,:uaca dapat meminimumkan risiko investasi hama. Studi lapangan menunjukkan bahwa tidak ada ngengat di Michoacan. Usulan APHIS juga menetapkan regulasi yang ketat untuk memonitor populasi serangga, panen, penerapan pengepakan dan pelayaran Berta inspeksi.
Pada periode review, usulan agar regulasi ini mengalami perubahan dan komentar publik tentang industri alpokat Amerika Serikat temyata masih memberikan tanggapan negatif. Industri Amerika Serikat berargumentasi bahwa studi lapangan mengenai serangga di Michoacan adalah cacat dan bahwa Amerika Serikat sebaiknya mengijinkan impor alpokat Meksiko hanya jika seluruh daerah di Meksiko dianggap telah bebas hama. Akhir usulan peraturan adalah meninjau kembali proses produksi dan impor. Dalam analisis akhir, APHIS menyatakan bahwa bedangkitnya lalat buah atau benih terjadi kurang dari sejuta tahun sekali dan bedangkitnya cumber ngengat setiap 11.402 tahun sekali.
Sangat menarik bahwa petani buah Amerika Serikat lainnya tidak bersimpati bila hal tersebut berakibat pada industri alpokat Amerika Serikat. Investasi hama dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan bagi petani buah Amerika Serikat, akan tetapi mereka tidak menolak impor alpokat Meksiko. Mereka melihat strategi dari ,elur-uh industri alpokat Amerika Serikat merupakan upaya mencari proteksi agar alpokat Meksiko tidak beredar J1 Amerika Serikat, yang menghalangi kesempatan pasar buah Meksiko untuk meningkatkan persaingan. Roberts Jan Orden (1995) mengemukakan adanya tekanan yang sangat kuat terhadap APHIS untuk menetapkan larangan rmpor bagi alpokat Meksiko di camping memimmumkan risiko investasi hama.
Impor Bibit Tanaman (Nursery)
Romano dan Orden menyajikan kasus lain di mana industri Amerika Serikat telah menekan Departemen Pertanian Amerika Serikat terutama APHIS untuk tetap membatasi impor dengan alasan yang tidak dapat Jibuktikan secara ilmiah. Kasus tentang bibit tanaman telah berlangsung sejak awal tahun 1970-an. Kasus ini mengalami penundaan dalam jangka waktu yang sangat lama dan negosiasi yang sangat rumit yang sering kali tepatan dengan prosedur untuk mengurangi hambatan teknis.
Impor sebagian besar stok bibit, tanaman, umbi, dan produk tanaman lainnya diperbolehkan hanya dalam ,zondisi tanpa akar karena tanah membawa patogen yang tidak diinginkan. Tanaman yang dikirim melalui jasa -pengapalan menjadi sangat mahal karena tingginya rata-rata tingkat mortalitas. Pada tahun 1974, Lembaga Pengawasan Belanda membuat persetujuan dengan APHIS untuk mengijinkan lima jenis tanaman memasuki Amerika Serikat dengan media tanpa tanah, termasuk tanah lumut dan cacing yang tidak berguna. Pengapalan ini diijinkan selama lima tahun masa percobaan dengan syarat bahwa prosedur phytosanitary yang ketat hares diikuti. Impor tanaman ini sangat kecil pengaruhnya bagi industri pertanaman Amerika Serikat karena jumlah impor atas jenis tanaman tersebut sangat sedikit. Tidak selama lima tahun masa percobaan sehingga APHIS menetapkan aturan bahwa lima jenis tanaman tersebut dapat diimpor dengan menggunakan -media pertumbuhan tertentu.
Antara tahun 1980 dan 1983 APHIS menerima permintaan ijin impor untuk enam jenis tanaman :ambahan dengan media pertumbuhan yang sama. Karena komentar dan tekanan dari dari industri pembibitan / nursery industri ini yang kemungkinan ada hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi yang signifkan APHIS menghentikan proses yang berkaitan dengan pengaturan impor itu pada pertengahan tahun 1980-an. Akhimya, APHIS memutuskan untuk menunjukkan penilaian risiko (bagian utama dari proses yang berkaitan dengan pengaturan impor tanaman) terhadap lima produk dalam waktu tertentu dengan harapan hal tersebut akan dapat menjawab beberapa kontroversi yang berhubungan dengan dampak secara ekonomi. Melalui proses ini terjadi perdebatan di antara ilmuwan APHIS yang terkonsentrasi pada strategi risiko minimal (konsisten dengan GATT),
dan industri yang menginginkan adanya risiko sebesar nol (yang dapat dipenuhi melalui larangan impor). Menurut catatan, hanya sepuluh dari enam puluh permintaan yang dikabulkan. Romano dan Orden berpendapat bahwa hal merupakan suatu kejadian manaeompomixi, tertentu memberikan tekanan yang besar pada suatu lembaga untuk menggunakan kriteria SPS dengan maksud menakut-nakuti dunia perdagangan internasional. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat dipercaya menurut pandangan industri pertanaman Amerika Serikat. Bentuk perselisihan seperti ini melibatkan penilaian risiko merugikan proses liberalisasi perdagangan dan menimbulkan kemungkinan tidak adanya konsensus partisipan yang sedang berselisih. Kedua belah pihak dapat menyetujui adanya peluang berjangkit. akan tetapi jika salah satu menginginkan risiko minimal dan yang lainnya menginginkan tidak adanya tidak ada lagi kesempatan untuk melakukan impor.
Perlakuan Daging Sapi dengan Hormon Pertumbuhan
Dewan Menteri Uni Eropa (pada saat itu dinamakan Komunitas Eropa) memberlakukan larangan gunaan hormon pertumbuhan pada kerbau domestik pada tahun 1985 dan melarang impor kerbau dan daging yang mengalami perlakuan menggunakan hormon pertumbuhan pada tahun 1988. Umumnya stimulus ]a penggunaan hormon pertumbuhan ini datang dari konsumen Uni Eropa, yang khawatir akan keamanan pap mereka karena adanya, kasus di Italia dengan ditemukannya penumbuh hormon DES ilegal dalam makanan Masyarakat Eropa menjadi skeptic (ragu-ragu) terhadap hormon pertumbuhan sejak kejadian tersebut.
Amerika Serikat memandang larangan penggunaan hormon sebagai suatu proteksi sederhana agar dam Sapi dari Amerika Serikat tidak masuk Uni Eropa. Larangan terjadi pada saat Uni Eropa. mendapat tekanan yang sangat besar untuk mengurangi pembelanjaan produk pertanian. Uni Eropa memiliki surplus yang besar a daging sapi dan produk hewan lainnya sehingga Amerika Serikat merasa bahwa orang Eropa berusaha ate, daging sapi Amerika Serikat tidak masuk ke pasar mereka supaya, surplus persediaan daging sapi berkurang.
Amerika Serikat berusaha menggunakan pedanjian TBT dari Putaran Tokyo untuk melawan larangn penggunaan hormon pada. tahun 1986 (sebelum larangan impor), akan tetapi perjanjian IBT hanya menyinggung karakteristik produk akhir. Salah satunya menyatakan bahwa daging sapi tersebut tidak mengalami perlakun dengan hormon pertumbuhan karena hormon itu sebetulnya sudah ada dalam daging sapi itu sendiri. Laranew penggunaan hormon menyangkut restriksi pada metode produksi tertentu sehingga Amerika Serikat berusa4 melakukan negosiasi secara unilateral selama bertahun-tahun, akan tetapi hal tersebut tidak pernah berhasil. saat yang sama Komisi Codex memutuskan bahwa tidak ada gunanya memberikan batasan maksimum res pada penggunaan hormon alami Oenis yang digunakan Amerika Serikat selama proses produksi kerbau).
Akhimya Amerika Serikat dan Kanada mulai mempermasalahkan prosedur penyelesaian WTO dan Uni Eropa tahun 1996. Suatu, panel dibentuk dan argumen kedua belah pihak didengarkan. Uni Eropa menyatA bahwa peraturan penggunaan hormon merupakan cara pencegahan karena tidak ada seorangpun yang tabu risilw, apa yang akan to adi. Uni Eropa berargumentasi bahwa mereka berhak menetapkan standar yang lebih tin= untuk keselamatan warga negaranya.
Amerika Serikat membalas dengan tantangan bahwa tidak ada bukti kuat yang menyatakan penggunaw hormon pertumbuhan akan menimbulkan masalah bagi kesehatan. Hormon yang ada pada bahan pangan tidak 3& hubungannya dengan kesehatan karena satu telur mengandung hormon lebih dari tujuh puluh lima kali jumlak hormon dalam 1 kilogram daging sapi. Salah satu argumen yang sulit adalah larangan penggunaan horn-m merupakan suatu standar yang lebih tinggi tanpa ada bukti pendukung yang kuat. Selanjutnya, Uni Eropa merr#- perbolchkan penggunaan hormon yang sama dalam situasi yang berbeda (seperti carbadox dalam produksi balxil sehingga terdapat bukti yang signifikan bahwa larangan tersebut merupakan skema proteksi.
Panel WTO membuat keputusan tentang penggunaan hormon pada tahun 1997 dan berpihak pad& Amerika Serikat dan Kanada. WTO menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk tidak mengijinkan perlakux penggunaan hormon pada daging sapi yang merupakan standar yang lebih tinggi. Tim panel menduga. bahwa U Eropa mengembangkan program labelling untuk mengidentifikasi perlakuan penggunaan hormon pada da&qrq sapi sehingga bila konsumen menginginkan daging sapi semacam itu maka mereka dapat langsung membelinya.
Uni Eropa memberitahu WTO jika menginginkan adanya diskusi panel, akan tetapi lembaga yang berhubungan dengan wewenang naik banding (Appelate Body) juga diatur oleh Amerika Serikat dan Kanada. Setelah keputusan tersebut diterapkan oleh Badan Pembahas Penyelesaian WTO, Uni Eropa menyatakan akan mematuhi keputusan tersebut dalam "waktu yang tepat" (a reasonable times). Seorang penengah (arbitrator) memutuskan bahwa waktu yang diberikan adalah sekitar lima belas bulan sehingga Uni Eropa memiliki waktu hingga bulan Mei 1999 untuk mematuhi aturan WTO. Pada akblmya Uni Eropa tidak mematuhi keputusan WTO sehingga Amerika Serikat diperbolehkan untuk menarik akses sebesar $117 juta atas produk Uni Eropa.
Isu perdagangan lain yang berhubungan dengan penggunaan hormon akan dapat terjadi lagi di masa yang akan datang. Sebagian masyarakat akan melarang susu dari sapi perah dengan recombinant bovine soniatotropin (rbST). Sekali lagi, hal ini merupakan standar proses produksi dan tidak ada yang dapat membedakan susu dari sapi perah yang mendapat perlakuan dengan rbST. Administrasi Obat-obatan dan Bahan Pangan Amerika Serikat tidak mengijinkan pengolah susu untuk mengidentifikasi susu karena susu tersebut berasal dari perusahaan ternak yang tidak mendapatkan perlakuan serupa. Namun nampaknya Uni Eropa mempunyai pandangan berbeda tentang hal ini terutama ketika konsumen tidak menginginkan susu atau produk susu dari sapi perah yang mendapat perlakuan dengan rbST.
Tantangan bagi WTO dimasa mendatang
Telah banyak kemajuan besar dalam mengatasi beberapa hambatan SPS selama beberapa tahun ini. Ada tujuh pengaduan formal yang diajukan dalam delapan belas bulan pertama setelah WTO mulai beroperasi (Stanton). Pengaduan ini mencakup prosedur inspeksi untuk buah-buahan segar, persyaratan layak pakai untuk pemrosesan daging, syarat perlakuan untuk botol air mineral, penyakit yang ada hubungannya dengan ikan, dan perlakuan hormon pada daging. Ada pula perdebatan mengenai syarat Batas kadaluarsa bahan pangan, iradiasi bahan pangan, labelling nutrisi dan bidang-bidang lain.
Kekhawatiran Konsumen Eropa akan Produk Pertanian Sintetis
Isu penggunaan hormon pada daging merupakan indikasi senialcin besarnya kekhawatiran mengenai produk pertanian yang dimodifikasi. Ada kasus-kasus di mans para ilmuwan Eropa meyakii-ii keamanan suatu proses produksi, hanya saja penemuan selanjutnya menyatakan yang sebaliknya. Salah satu contoh yang paling kontroversial dari kasus ini adalah masalah bovine spongiforni encephalopathY (BSE) atau yang biasa disebut dengan penyakit sapi gila. Para ilmuwan Inggris menyatakan bahwa praktik pemberian pakan oleh petani adalah aman dan tidak akan berakibat pada orang yang mengonsumsi daging sapi Inggris. Bagaimanapun juga, kefika diteniukan bahwa penyakit sapi gila dapat ditularkan kepada orang yang mengonsumsi daging sapi, konsumen Eropa ingin tabu kesimpulan secara ilmiah atas produk bahan pangan lainnya.
Perdebatan hebat yang sedang berlangsung scat ini adalah mengenai organisms yang dimodifikasi secara genetis (Genetically Modified Organisin = GMOs). Banyak tanaman di Amerika Serikat berasal dari stok benih yang telah dimodifikasi secara genetis, dan beberapa negara di antaranya termasuk beberapa negara di Eropa menginginkan GMOs ini dipisahkan dari produk alami dan diberi label GMO. Pemisahan produk ini hampir tidak mungkin dilakukan dalam sistem pemasaran biji-bijian, yang berarti penjual biji-bijian tidak dapat menjamin bahwa produk yang dikirim bebas dari GMO. Amerika Serikat mengirinikan 9 juta metrik ton kedelai ke Uni Eropa tahun 1998 dan semua kedelai itu secara genetis telah dimodifikasi.
Bukan hanya Masyarakat Eropa yang khawatir mengenai GMO karena sebagian besar masyarakat Afrika dan Amerika Latin juga sedang melakukan pelabelan produk GMO. Bagaimanapun juga, umumnya bangsa pengekspor biji¬bijian, termasuk Argentina, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, sangat menentang proses pelabelan tersebut. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa produk GMO mengakibatkan hal buruk pada konsumen, nieskipun suatu studi yang dilakukan di Inggris baru-baru ini, yang dinilai tidak ilmiah, menemukan bahwa kentang yang dimodifikasi secara genetis dapat mengakibatkan pertumbuhan yang kerdil dan lemaluiya imunitas tikus dalam percobaan di laboratorium.
Penggagas labelling menyatakan bahwa siapapun tidak akan mengetahui apakah penelitian di masa yang akan datang akan menemukan bahayanya produk GMO. Ada pengalaman seperti ini di Eropa. Jadi mengapa tidak memberikan label pada produk tersebut dan memberikan hak pada konsumen untuk memilih? Kasus ini tidak banyak berbeda dengan memberi label pada daging sapi dengan label halal atau tuna dengan label temannya lumba-lumba: pemberian label akan memberikan informasi kepada konsumen. Survai yang dilakukan baru-baru ini di Eropa menemukan bahwa 86 persen
mendukung adanya pelabelan pada produk GMO (The Economist). Namun produsen khawatir bahwa pertimbangan konsumen yang tidak ilmiah menghalangi produsen untuk memperoleh keuntungan dari produk GMO dan memaksa mereka untuk mengidentifikasi produknya di beberapa pasar (yang akan meningkatkan biaya yang sangat besar).
Banyak kemajuan telah dicapai tetapi masih relatif lamban karena persyaratan teknis harus dipenuhi kasus per kasus, dengan berbagai upaya mempelaiari metode penilaian risiko. Departemen Pertanian Amerika Serikat melalui Lembaga Pertanian Luar Negeri memperkirakan ada 292 teknik penilaian terhadap produk luar negeri yang diragukan yang berdampak pada ekspor pertanian Amerika Serikat, yaitu pengurangan produk ekspor sebesar $5,4 miliar (Roberts, 1998). Meskipun demikian selama metodologi menjadi standar dan negara yakin bahwa lembaga pembahas prosedur penyelesaian WTO bekeria dengan baik, maka akan tedadi lebih banyak lagi penyelesaian perselisihan unilateral dan bilateral dan akan menghasilkan hambatan teknis yang lebih sedikit dalam perdagangan.
Mengukur Hambatan Perdagangan
Seperti yang telah ditunjukkan oleh bab ini dan bab sebelumnya, ada beberapa metode berbeda yang digunakan oleh suatu negara untuk memutus mata rantai di antara pasar domestik dan pasar dunia. Putusnya mata rantai ini akan menghasilkan tarif, kuota, retribusi variabel atau persyaratan teknis. Sering kali terdapat kebijakan dengan persyaratan teknis tertentu yang berdampak pada hubungan antara pasar domestik dan pasar dunia untuk produk tertentu. Sangatlah penting untuk mengukur proteksi yang menjadi hambatan perdagangan ini sehingga para negosiator perdagangan dapat memahami apakah suatu hambatan perlu dinegosiasikan kembali dan kemajuan liberalisasi perdagangan dapat diukur wiring dengan dimunculkannya hambatan perdagangan.
Bagian ini membahas tiga ukuran hambatan perdagangan yang umum digunakan untuk memonitor liberalisasi perdagangan, yaitu nilai nominal proteksi, nilai efektif proteksi dan ekuivalensi subsidi produsen (dan konsumen).
Nilai Nominal Proteksi (Nantinal Rate of Protection = NRP)
Proteksi yang dihasilkan oleh tiap hambatan perdagangan dapat diukur dengan cara menginvestigasi efek hambatan terhadap perbedaan harga di pasar dunia dan harga domestik. Tarif $1 per unit akan menghasilkan perbedaan sebesar $1 antara harga dunia dan harga domestik. Hal ini hanya berlaku pada hambatan yang memiliki efek harga tertentu, misalnya tarif. Seperti telah dikemukakan di bab sebelumnya, efek harga domestik atas kuota tergantung pada kondisi permintaan dan penawaran antarnegara. Mengukur efek harga atas persyaratan teknis dan pembatasan lainnya yang tidak memiliki dasar harga sangatlah sulit.
Berdasarkan alasan ini para ekonom cenderung melihat perbedaan antara harga dunia dan harga domestik untuk,n-lenentukan kombinasi efek dari seluruh hambatan perdagangan untuk produk-produk tertentu. Sate hal yang harus diperhatikan adalah bahwa dua harga tersebut adalah sebanding (pada tingkat yang sama dalam sistem pemasaran dan lokasi geografis yang sama pula) sehingga perbedaan harga tersebut hanya merefleksikan hambatan perdagangan saja (border price) dibanding harga domestik perdagangan besar di pelabuhan). Dengan demikian perbedaan antara harga domestik, Pd, dan harga di pasar dunia, Pw, adalah implikasi dari hambatan perdagangan, T.
T = Pd — P,
Sebagai contoh, jika produk yang dibicarakan adalah selai kaeang dengan harga di pasar dunia sekitar $1,50 per pon, sementara harga domestik sekitar $2,00 per pon, maka akan memberikan implikasi hambatan perdagangan sekitar $0,50 per pon.
Nilai nominal proteksi, NRP, merupakan ukuran untuk hambatan perdagangan yang paling sederhana yang dinyatakan dalam persentase. Caranya mudah, yaitu mengubah persamaan (5.1) ke dalam bentuk persentase.
NRP = TIP
Dalam kasus selai kaeang, NRP adalah 33 persen (0,50/1,50).
Mai Efektif Proteksi (Effective Rate of Protection = ERP)
Jika ingin mengukur tingkat proteksi produsen domestik pada suatu produk maka harus mempertimbang¬kan bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh para produsen akan lebih rendah dari harga produk tersebut. Dalam hal ini diasumsikan bahwa harga produk olahan dibedakan menjadi harga bahan mentah (input 1) dan harga gabungan dari seluruh aktivitas pemberi nilai tambah (input 2, yang meliputi lahan, tenaga kerja, modal, dll), sehingga persamaan dalam persaingan sempurna dapat dituliskan sebagai berikut:
P'j = IVP + IV'P
Satu hal yang perlu dipahami, wls merupakan jumlah unit input sebesar i yang diperlukan untuk mem¬produksi 1 unit produk olahan. Nilai tambah yang diperoleh para pengusaha manufaktur atau produsen adalah u~P2, karena IVP adalah input yang dibeli. Nilai efektif proteksi, ERP, yang mencerminkan proteksi yang diberikan kepada para pengusaha manufaktur untuk memperoleh nilai tambah adalah.,
ERP = TI(W2P2)
ERP = (Pi – P,)l('Y-,P2)
Perlu dicatat bahwa ERP biasanya lebih besar atau sama dengan NRP. Semakin rendah nilai tambah dalam suatu proses, semakin tinggi nilai efektif proteksi. Dalam kasus selai kaeang, jika diasumsikan kacang adalah satu-satunya bahan mentah dalam selai kacang dan kacang tersebut mencapai 50 persen dari biaya domestik, ERP selai kacang akan berkisar 50 persen (0,5011,00). Jika biaya produksi kaeang hanya 10 persennya saja, maka ERP akan menjadi 27,8 persen (0,50/1,80), yang lebih rendah dari NRP karena nilai tambah untuk pembuatan selai kacang sangat tinggi.
Untuk masalah yang lebih remit (tetapi lebih ke arah realitas yang ada), diasumsikan bahwa produk olahan menggunakan bahan baku yang harga domestiknya di atas harga pasar dunia (tersirat adanya hambatan perdagangan dalam kandungan bahan baku tersebut). Proteksi yang diberikan kepada produsen domestik yang menghasilkan produk olahan masih rendah karena mereka harus membayar dengan harga yang tinggi untuk memperoleh input.
Harga produk olahan tanpa hambatan perdagangan, balk pada produk atau pada bahan baku ditunjukkan dalam persamaan (5.3) jika P, mencerminkan harga di pasar dunia untuk bahan baku dan jika hambatan perdagangan tedadi pada input I (di mana harga domestik untuk input adalah PI *), maka harga domestik produk olahan dalam persaingan sempurna dengan adanya hambatan perdagangan adalah, P,,*, sehingga:
P11* = W/P/* + W'P
Perbedaan antara harga domestik produk olahan, Pd*, dan harga yang seharusnya berlaku dalam perdagangan bebas, Ph mengandung dua unsur, yaitu hambatan perdagangan pada produk olahan, T*, dan hambatan perdagangan pada input 1, wj(PI* - PI). Dengan demikian adanya hambatan perdagangan pada produk olahan dapat ditemukan melalui persamaan:
P,i - P,,, = Wi(Pi * - Pd + T*
atau
T* = Pd- P. – wi(Pl* - Pd (5.8)
Dalam kasus 1111 adanya hambatan perdagangan pada produk olahan, T*, lebih rendah dari selisih antara harga domestik dan harga di pasar dunia untuk produk olahan karena pars pengusaha manufaktur membeli input di atas harga pasar dunia. . Rumus untuk menghitung ERP tetap menggunakan persamaan (5.4), akan tetapi menggunakan T*, bukan T.
Dalam contoh selai kacang, jika harga domestik kacang dua kali lipat harga di pasar dunia maka harga kacang di pasar dunia dalam tiap 1 pon selai kacang hanyalah $0,50, dan nilai efektif proteksi selai kacang adalah nol. Para pengusaha pengolahan kacang telah membayar ekstra sebesar $0,50 untuk kacang yang digunakan dalam setiap pon selai kacang sehingga hambatan perdagangan pada selai kacang telah sepenuhnya dikompensasi (diganti kerugiannya) oleh produsen selai kacang melalui pembelian kacang domestik dengan harga yang lebih tinggi.
Ekuivalensi Subsidy Produsen dan Konsumen (Producer and Consumer Subsidy Equivalents)
Tingkat proteksi nominal dan efektif merupakan ukuran yang tepat untuk produk basis secara individual. Meskipun demikian kedua ukuran tersebut tidaklah sempurna terutama untuk produk pertanian karena peran penting dari subsidi pemerintah. Sebagian dari subsidi pemerintah diterima dalam bentuk pembayaran langsung kepada produsen sehingga mudah untuk dimasukkan ke dalam rumus NRP atau ERP. Tetapi banyak pemerintah daerah yang cenderung untuk tidak memberikan subsidi secara langsung pada komoditas tertentu atau sulit untuk mendokumentasikan subsidi ke dalam bentuk selisih antara harga domestik dan harga dunia. Ekuivalensi subsidi produsen (Producer Subsidy Equivalents = PSE) dikembangkan untuk menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi pada NRPs dan ERPs.
PSE mengukur efek dari kebijakan pemerintah. terhadap pendapatan kotor usaha tani atau pembayaran lump stan oleh pemerintah untuk membayar petani agar pendapatan mereka tidak berubah jika kebijakan pemerintah dilakukan (Ballenger, 1992). Yang termasuk dalam PSE adalah pembayaran langsung pemerintah (atau subsidi) ditambah biaya pembelanjaan pemerintah yang berhubungan dengan komoditas. PSE biasanya dihitung dengan rumus sebagai berikut:
PSE = (Pd – P,)Q + GE (5.9)
PSE juga dapat ditunjukkan dengan persentase penerimaan usaha tani atau berdasarkan hitungan per ton.
Dalam persamaan (5.9), Pd — P,,, merupakan selisih antara harga domestik dengan harga internasional, Q merupakan jumlah produksi, dan GE merupakan pengeluaran pemerintah untuk mensubsidi produsen, termasuk pengeluaran untuk belanja produk yang spesifik dan umum. Bila PSE dibagi dengan pendapatan kotor usaha tani maka hasilnya merupakan persentase dari pendapatan kotor usaha tani dengan adanya kebijakan pemerintah.
Pembelanjaan pemerintah yang tidak berhubungan langsung dengan komoditas tertentu (seperti subsidi kredit usaha tani, subsidi transportasi, dan pembelanjaan pemerintah untuk penelitian dan penyuluhan) perlu dihitung sesuai dengan proporsinya dalam analisis pendapatan usaha tani (misalnya, jika jagung mempunyai proporsi sebesar 10 persen dari pendapatan usaha tani 10 persen dari pembelanjaan pemerintah akan dimasukkan dalam penghitungan PSE atas jagung).
Tabel 5.1 menunjukkan penghitungan PSE untuk jagung di Amerika Serikat pada tahun 1986, di mana PSE sebagai persentase pendapatan produsen jagung berada di titik maksimum, dan tahun 1993 merupakan data tahun terakhir. Untuk tahun 1986, total pembayaran langsung kepada produsen jagung adalah sejumlah $8,0 miliar dan transfer total tak langsung sejumlah $1,8 miliar. Keuntungan yang diperoleh produsen jagung ber¬jumlah 47,7 persen dari pendapatan total mereka. PSE untuk tahun 1993 sangat rendah karena pembayaran langsung untuk produsen jagung sebesar $1,5 miliar dan transfer tak langsung sebesar $0,9 miliar. Keuntungan produsen jagung berjumlah 13,9 persen dari pendapatan total mereka. Tidak ada perbedaan antara harga jagung Amerika Serikat dengan harga jagung dunia sehingga selisih harga adalah nol untuk kedua tahun tersebut.
4 Catatan bahwa Pi* dapat mencakup pajak atau subsidi pemerintah yang menyebabkan harga domestik input menjadi berbeda-beda dibanding harga di pasar dunia Salah satu kelebihan dari PSE adalah dapat dibandingkan antamegara karena telah mencakup Skala produksi dan sejumlah nilai uang. Selanjutnya, dengan mudah PSE untuk setiap komoditas dapat dijumlahkan untuk memperoleh PSE seluruh industri pertanian di suatu negara. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan meng¬gunakan NRPs dan ERPs tanpa mempertimbangkan berbagai masalah tiap produk. Oleh karena itu PSE merupakan alat yang sederhana untuk membandingkan suatu negara dengan negara lain atau suatu komoditas dengan komoditas lain.
PSE juga merupakan cars yang praktis untuk mengubah setiap hambatan dan pengeluaran pemerintah yang ekuivalen dengan subsidi. NRPs dan ERPs yang murni tidak mempertimbangkan apakah produksi domestik¬nya besar atau kecil sehingga NRP 10 persen pada daging sapi (impor utama Amerika Serikat) kira-kira memiliki dampak yang sama dengan NRP 10 persen pada jagung (produk yang diimpor Amerika Serikat dengan nilai hampir mendekati nol). Ekuivalensi subsidi NRP 10 persen pada daging sapi jauh melebihi ekuivalensi subsidi NRP 10 persen pada jagung di Amerika Serikat. Ketika negosiasi multilateral diadakan, jauh lebih mudah untuk menghadapinya dengan menggunakan PSE daripada ukuran proteksi lainnya. Juga, ketika negosiasi dilakukan, penggunaan PSE akan membantu negara-negara sehingga lebih mudah untuk menghitung target liberalisasi: karena tidak jadi masalah kombinasi kebijakan apa yang berubah, karena ukuran PSE akan memperhitungkan penurunannya dengan persentase tertentu.
Akhirnya PSE dapat berlaku sebagai alat monitor yang mudah karena PSE relatif mudah dihitung (meskipun memerlukan banyak waktu). Dalam Putaran Uruguay dari negosiasi GATT, has]] akhir negosiasi antara negara mencakup PSE agregat dan PSE per komoditas. Jadi sangat penting untuk memiliki ukuran yang mudah dihitung (dan dinegosiasikan). Di samping kemudahan dalam penggunaan dan definisi yang mencakup seluruh transfer pemerintah, PSE memiliki masalah berkenaan dengan liberalisasi perdagangan. Ukuran ini tidak mengindikasikan dampak dari kebijakan pemerintah terhadap pasar dunia. Secara khusus PSE tidak mengukur derajat distorsi (penyimpangan) perdagangan internasional, dan mengeliminasi distorsi ini merupakan topik utama dari negosiasi perdagangan multirateral. Dua negara dapat memiliki PSE yang identik untuk suatu komoditas, akan tetapi kebijakan salah satu negara mungkin tidak memiliki dampak pada perdagangan sementara kebijakan lain dapat mengakibatkan dampak yang sangat besar.
Perhatikan kasus di mana negara pengimpor menjamin harga suatu produk di atas harga pasar dunia seperti yang disajikan Gambar 5.1. Tanpa adanya kebijakan pemerintah dan perdagangan bebas, negara sebaiknya membuat harga domestiknya sama dengan harga di pasar dunia, yaitu P, sehingga ekspor adalah Q, dikurangi Q2 (produksi dikurangi konsumsi). Asumsikan bahwa negara tersebut ingin menjamin produsennya pada suatu harga sebesar Ps melalui defisiensi pembayaran yang merupakan selisih antara Ps dan harga pasar (yang akan menjadi Pw bila negara tersebut menjadi eksportir). Produsen hanya akan menerima jaminan harga jika mereka mau mengurangi luasan tanah yang ditanami (dan diasumsikan bahwa persentase tersebut mampu menggeser kurva penawaran efektif dari S menjadi S').
PSE suatu negara adalah daerah ABCD, akan tetapi kombinasi kebijakan ini tidak akan berpengaruh pada ekspor negara tersebut. Oleh sebab itu tidak akan terjadi efek apapun di seluruh dunia. Negara lain sebalknya mengabaikan kombinasi kebijakan ini karena tidak mempengaruhi harga di pasar dunia, konsumsi atau produksi. Hal yang sangat berbeda dengan situasi ini adalah sistem subsidi ekspor mumi yang mampu menghasilkan PSE yang sama, yang akan menaikkan ekspor negara pengekspor dan kemudian menghasilkan distorsi perdagangan yang akan mengubah pola produksi dan konsumsi di negara-negara di seluruh dunia. Oleh karena itu satu hal yang harus diperhatikan dalam mengambil kesimpulan adalah bahwa PSE selalu mencerminkan distorsi perdagangan.
Penghitungan PSE memiliki masalah seperti halnya ukuran proteksi lainnya. Harga di pasar dunia dan harga domestik wring kali disebut dalam berbagai mata uang yang berbeda sehingga kita harus memilih salah satu nilai tukar mata uang yang akan digunakan. Pilihan ini dapat menimbulkan masalah jika kontrol pertukaran masih beriaku (batasan atas siapa yang dapat menukar mata uang atau menggunakan mata uang) atau jika terdapat ber¬bagai macam nilai tukar mata uang yang tergantung pada transaksi. Kedua hal ini terjadi pada negara yang sedang berkembang. Lebih jauh lagi, nilai tukar yang mengambang akhir-akhir ini dan harga komoditas dunia dapat mengubah penghitungan secara drastis dari tahun ke tahun. Rata-rata nilai tukar dan harga komoditas dari tahun ke tahun dapat mengurangi variabilitas penghitungan ini.
Meskipun ada masalah dengan ukuran hambatan perdagangan, terdapat permintaan yang sangat besar atas ukuran-ukuran agregatif yang dapat digunakan untuk melakukan negosiasi dan memonitor perkembangan liberalisasi perdagangan. Adalah penting untuk menyempumakan ukuran-ukuran hambatan perdagangan dan mengatasi beberapa kelemahan konseptual, sementara di satu sisi menjaga agar tetap relatif mudah untuk formasi kebijakan.
Pada akhimya ekuivalensi subsidi konsumen (CSE) dibanding dengan PSE, di mana keduanya mengukur besamya subsidi pemerintah, tetapi CSE adalah subsidi kepada konsumen dan wring kali diindikasikan sebagai persentase pengeluaran konsumen. CSE juga memiliki dua komponen, yaitu (1) selisih harga antara harga di pasar dunia dan harga domestik (CSE negatif bila harga domestik berada di atas harga pasar dunia), dan. (2) pembelanjaan negara yang menguntungkan konsumen komoditas tersebut. Ukuran ini biasanya relatif kecil hampir di seluruh negara, akan tetapi dapat menjadi besar dengan jumlah yang positif untuk beberapa negara yang kurang berkembang.
RANGKUMAN
1. Standar teknis merupakan suatu. aturan untuk kuallitas, pachiging, labeling, standar identitas dan kesesuaian penilaian. Beberapa regulasi ini membantu meningkatkan anus informasi dalam proses pemasaran dan membuat konsumen mengerti akan produk ash, keamanan dan kualitas. Regulasi atau hambatan teknis lainnya mencakup regulasi sanitary dan phitosanitary (SPS) tanaman dan hewan untuk memastikan bahwa produk yang diperdagangkan tidak terinfeks] hams dan penyakit yang berbahaya.
2. Banyak prang khawatir bahwa hambatan teknis secara murni merupakan proteksi bagi produsen domestik. Hal ini ada benamya untuk kondisi saat ini ketika hambatan pasar tradisional gugur karena negosiasi GATT, namun demikian masing-masing negara akan meningkatkan hambatan teknis.
3. Perjanjian SPS Putaran Uruguay menghasilkan beberapa prinsip dasar, yaitu suatu negara memiliki hak untuk melakukan tindakan-tindakan yang melindungi tanaman, hewan dan kesehatan manusia jika memiliki dasar ilmiah; suatu negara sebaiknya mengacu persyaratan SPS pada standar internasional, panduan, atau rekomendasi; suatu negara harus mengenali tindakan yang diadopsi oleh negara lain jika mereka memberikan proteksi yang sama; ukuran SPS sebal'knya berdasar pada penilaian risiko; dan suatu negara sebaiknya menyadari bahwa risiko SPS tersebut tidak berkaitan dengan hambatan politik.
4. Kasus alpokat Meksiko, impor tanaman dan penggunaan hormon pada daging sapi menunjukkan betapa sulitnya menciptakan pasar yang lebih terbuka melalui pengurangan hambatan teknis. Ada banyak cara untuk menghambat proses liberalisasi, terutama bila uang ikut ambil bagian secara substansial.
5. Empat ukuran hambatan teknis adalah nilai nominal proteksi, nilai efektif proteksi, ekuivalensi subsidi produsen, dan ekuivalensi subsidi kosumen. Dua ukuran yang pertama memperhitungkan selisih antara harga domestik dan harga di pasar dunia, sementara dua ukuran yang terakhir memperhitungkan pembelanjaan negara dalam perhitungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar